Jakarta (ANTARA) – Hasil survei Housing Estate menunjukan penjualan properti masih didominasi rumah dengan harga terjangkau dibandingkan rumah menengah – atas yang membutuhkan upaya agar lebih cepat terjual.

“Pasar rumah khususnya menengah atas masih lesu, berbeda dengan rumah murah yang pasarnya tidak pernah surut,” kata Joko Yuwono, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi majalah HousingEstate dan portal berita housingestate.id di Jakarta, Minggu.

Bahkan, menurut Joko, akibat kondisi pasar yang demikian sebagian besar developer itu menyasar pasar rumah murah termasuk rumah bersubsidi.

“Developer dengan kondisi pasar seperti ini dituntut untuk fleksibel. Fleksibel dalam arti bukan hanya dalam pilihan segmen pasar, tapi juga besaran margin yang diperoleh,” kata Joko.

Mengutip hasil riset sebuah grup usaha developer besar, pasar properti dewasa ini dan ke depan didominasi kelas menengah yang akan mencakup 66 persen populasi, penduduk kota (urban) yang akan mencapai lebih dari 70 persen, dan kaum milenial yang mencakup 35 persen populasi.

Urban terkait pola pikir termasuk terhadap rumah (properti), milenial berkenaan dengan perilaku, sedangkan kelas menengah menunjuk ke daya beli.

“Sejumlah developer mampu memahami dan melayani kebutuhan pasar tersebut,” ujar Joko.

Penawaran rumah-rumah kompak dengan harga terjangkau itu diiiringi dengan kemudahan cara bayar, seperti persyaratan uang muka yang kecil, bunga promo KPR yang  rendah (di bawah 8-10 persen) fixed selama beberapa tahun pertama, ditambah free biaya KPR, BPHTB, biaya surat-surat, dan lain-lain menjadi daya tarik konsumen properti, jelas Joko.

Termasuk juga soal lokasi rumah yang  strategis di dalam kota atau mudah dicapai dari jalur transportasi massal atau di kawasan kota baru, jelasnya.

Joko menjelaskan Seperti tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 2014, menjelang tutup tahun 2019 HousingEstate memberikan Housing Estate Awards kepada proyek properti yang mencatat penjualan cukup bagus.

Beberapa contohnya, adalah Tamansari Metropolitan Manado di dalam kota Manado (Sulawesi Utara), dan Citra Garden Puri dekat kawasan pusat bisnis Puri Indah di Kembangan (Jakarta Barat) dan gerbang tol Karang Tengah.

Ramah lingkungan

Seperti biasanya penyelenggaraan Housing Estate Awards juga disertai pemberian penghargaan kepada proyek-proyek yang dinilai cukup ramah lingkungan yang dinamakan HousingEstate Green Property Awards.

Pemberian penghargaan HousingEstate Green Property Awards 2019 itu diselenggarakan  bersamaan dengan Housing Estate Awards 2019, yang dihadiri kalangan pengembang, produsen bahan bangunan, bankir, birokrat, dan media massa.

Tahun ini 10 proyek menerima Green Property Awards. Paling banyak untuk kategori green transportation, karena integrasi proyek dengan jalur transportasi massal, menyusul masifnya pembangunan infrsatruktur itu 5-7 tahun terakhir terutama di megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).

Kalau dulu proyek-proyek properti, apalagi yang menyasar segmen menengah ke atas dan mewah, gengsi menyebut kedekatan dengan jalur transportasi massal sebagai nilai lebih, kini tidak lagi. Banyak proyek dengah gembira mempromosikan kedekatan dengan transportasi massal itu sebagai salah satu kelebihan.

Sejumlah developer bahkan dengan antusias bekerja sama membangun stasiun baru dekat lokasi proyeknya. Contohnya, Sinar Mas Land (SML), developer BSD City (6.000 ha), yang meremajakan stasiun kereta komuter Cisauk (Tangerang) di jalur kereta komuter Tanah Abang (Jakarta)-Bintaro-Serpong-Parung Panjang-Tigaraksa-Tenjo-Maja-Rangkasbitung, dan mengintegrasikan proyeknya dengan stasiun itu.

Contoh lain, Metropolitan Land (Metland), developer Metland Cibitung (460 ha) di Cibitung, Bekasi, di jalur kereta komuter Jakarta-Bekasi-Cikarang, yang membangun stasiun baru Telaga Murni terintegrasi dengan jalur kereta itu.

Bukan hanya memudahkan akses penghuni, integrasi dengan transportasi massal itu juga membuka prospek baru pengembangan proyek. SML contohnya, sejak tahun lalu sebelum renovasi stasiun itu selesai sudah melansir kawasan hunian dan niaga terpadu Intermoda (25 ha) yang terintegrasi dengan stasiun Cisauk. Sedangkan Metland sejak September 2019 mulai memperkenalkan distrik pusat bisnis atau central business district (CBD) Millenium City (23 ha) yang terkoneksi dengan stasiun Telaga Murni.

“Setiap hari stasiun itu didatangi 12.000-14.000 pnumpang. Sebagian adalah penghuni Metland Cibitung yang saat ini sudah ditinggali 3.400 KK. “Semua itu mengerek prospek investasi properti di kawasan,” kata Anhar Sudradjat, Wakil Presiden Direktur Metland.